Kamis, 07 Agustus 2014

"Divine Cigarette", Rokok yang Menyembuhkan Segala Penyakit


http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRjTDqyw1Niv_JKkpG8FQF2zl_12u31dCF1-_Ot-vR-hhACv9gtwTGjSQ
Tentu saja sangat aneh ada asap rokok yang bisa menyembuhkan banyak penyakit. Bagaimana bisa ya?
Seorang wanita mengembuskan asap rokok ke dalam mulut kurus seorang pasien yang terbaring telanjang di sebuah klinik di Jakarta.

Tentu ini hal aneh karena kita sering dengar dan ketahui tembakau merupakan salah satu faktor penyebab munculnya kanker.

Nah, ini seorang pasien bule yang menderita emfisema, penyakit akibat aktivitas merokok yang dilakukan tahunan justru diberi asap rokok. Bersama dengan kanker dan autis, ini hanya salah satu penyakit yang diklaim oleh Klinik Griya Balur dapat disembuhkan dengan rokok.

"Aku merindukan ini," ujar wanita, pelanggan tetap dengan aksen Amerika. Sementara lagu Phil Collins "I Can Feel It" terdengar di sela-sela proses pengobatan. Di banyak bagian dunia lain Griya Balur akan ditutup, tetapi tidak di Indonesia. Tradisi panjang penggunaan tembakau dan lemahnya peraturan sekaligus uang yang mengalir deras di kantong pemerintah membuath tempat-tempat seperti Griya Balur tetap aman-aman saja.

Pengobatan bagi penderita emfisema di Griya Balur dilakukan dengan meniup asap rokok yang disebut "divine cigarettes" yang diinfus dengan teknologi nano untuk mengusir penyebab kanker, radikal bebas melalui selang ke paru-paru yang sakit. Asap juga ditiup ke telinga dan hidung pasien.

Griya Balur didirikan oleh Dr Gretha Zahar. Kepada AFP Gretha menyebutkan bahwa dia sudah merawat 60.000 orang dengan asap rokok selama sepuluh tahun terakhir.

Dengan gelar PhD di bidang 'nanochemistry' dari Universitas Padjadjaran di Bandung, Jawa Barat, Zahar percaya bahwa manipulasi merkuri dalam asap rokok dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk kanker, bahkan memperlambat proses penuaan.
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRn4B4CYFHXlNH8fLrDdHZHsoah3vNn4b9oZkqd-YIC9x1H6SPnfsYVvYE
"Merkuri adalah penyebab dari semua penyakit. Dalam rokok saya yang kita sebut sebagai "Divine Cigarettes" ada unsur yang mengumpulkan mekuri dari tubuh," katanya.

Di websitenya, Gretha menyebutkan bahwa teorinya ini tidak perlu diuji klinik atau dipublikasikan dalam jurnal-jurnal untuk dikupas karena dia merasa tidak punya cukup biaya untuk melawan para ilmuwan kedokteran dari barat.

Klaim Gretha baru-baru ini disampaikan kepada Mahkamah Konstitusi. Bersama dia, ada petani dan legislator yang menantang undang-undang yang menyebutkan bahwa daun tembakau itu bersifat adiktif.

Aris Widodo, seorang profesor farmakologi dari Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, pada kesempatan itu, seperti dikutip AFP mengatakan kepada pengadilan bahwa ia belum pernah mendengar ada orang meninggal akibat merokok. Sebaliknya, kata dia, merokok itu baik untuk Anda.

"Merokok dapat menghilangkan kecemasan, mempertajam konsentrasi dan menenangkan saraf. Ini merupakan alternatif yang murah dibanding obat yang mahal seperti valium," katanya.

Pemerintah menerima setidaknya tujuh miliar dolar per tahun dari hasil pajak cukai dan menyediakan lapangan kerja bagi ribuan warganya. (abd/afp)








Penderita EBOLA membaik Karena Tembakau

Membaiknya penderita Ebola dengan pengobatan bioteknologi yang diproduksi dari tembakau. Dalam tubuh berita disebutkan, Perusahaan Mapp Biopharmaceutical, berhasil mengembangkan serum anti-Ebola yang disebut ZMapp dari protein yang ditemukan pada tanaman tembakau.
Mengetahui hasil yang bagus saat diuji terhadap monyet yang terinfeksi Ebola, perusahaan itu memberikan obat pada dua warga Amerika yang kesehatannya membaik, meski penggunaan serum itu belum mendapat izin dari pejabat kesehatan AS.
Kent Brantly, seorang dokter, dan Nancy Writebol, seorang misionaris, mendapat perawatan di sebuah ruang khusus di rumah sakit Universitas Emory di Atlanta, Georgia.

Dua warga Amerika yang tertular virus maut Ebola ketika bekerja di Afrika tampak membaik setelah dirawat dengan obat eksperimen bioteknologi yang diproduksi dari tembakau.
Pihak berwenang kesehatan Amerika telah berkampanye selama bertahun-tahun menentang rokok dan penggunaan produk tembakau untuk menurunkan angka kematian akibat kanker.
Namun, sebuah perusahaan yang hanya memiliki sembilan pegawai di California, Mapp Biopharmaceutical, berhasil mengembangkan serum anti-Ebola yang disebut ZMapp dari protein yang ditemukan pada tanaman tembakau.
Perusahaan itu telah memperoleh data yang mendukung dari uji terhadap monyet yang terinfeksi Ebola, namun belum mendapat izin dari para pejabat kesehatan Amerika untuk digunakan pada manusia.
Namun, perusahaan itu, memberikan obat itu untuk digunakan pada dua warga Amerika yang tertular Ebola di Liberia ketika bekerja untuk sebuah lembaga amal Kristen. Obat itu diberikan pada Kent Brantly, seorang dokter, dan Nancy Writebol, seorang misionaris, sebelum diterbangkan pulang ke Amerika untuk mendapat perawatan di sebuah ruang khusus di sebuah rumah sakit di Atlanta, Georgia.
Para pejabat mengatakan, kesehatan Brantly, yang tiba di Amerika Sabtu lalu, tampak lebih baik.
Sementara, misionaris Nancy Writebol tiba hari Selasa di Amerika. Puteranya, Jeremy Writebol mengatakan bahwa kondisi ibunya menunjukkan tanda-tanda yang membaik.



FCTC dan Fakta Tentang Tembakau

Membaca artikel mantan Ketua PB IDI Kartono Muhammad bertajuk “FCTC dan Petani Tembakau” (Kompas, 12/3/2014), sebenarnya cukup menarik. Sayang, artikel ini ditulis dengan nada sinisme dan stigmatisasi terhadap Industri Hasil Tembakau (IHT).
Beberapa narasi sinisme itu antara lain bisa dilihat, dari bagian-bagian awal, bahwa terkait regulasi pengendalian rokok (baca: tembakau) yang didorong kelompok anti kretek dan jaringannya. Yakni industri rokok yang ketakutan bisnisnya akan tutup dan pencandu rokok yang takut akan sulit mendapatkan rokok yang sudah menjeratnya.
Tak cukup di situ. Kartono Muhammad juga menuding kelompok lain ikut ketakutan jika ada regulasi pengendalian IHT di Indonesia, yaitu politisi dan birokrat korup yang (disebut) menikmati dana dari industri rokok.
Meski Kartono membangun argumentasinya dengan data-data, seperti ihwal mula munculnya regulasi pengendalian konsumsi rokok pertama kali terjadi di Amerika Serikat dan mencuatnya penelitian-penelitian kesehatan yang membuktikan adanya kaitan antara konsumsi rokok dan meningkatnya kanker paru-paru di AS, namun ini tidaklah cukup.
Pertama, perlu riset serius mengenai kasus di Indonesia. Riset di AS yang menyebutan adanya peningkatan pengidap kanker paru-paru akibat meningkatnya tingkat konsumsi rokok, adalah fakta di AS yang belum tentu sama ihwalnya dengan Indonesia. Apakah pernah ada riset serupa di Indonesia pun kemudian menjadi pertanyaan yang perlu diajukan.
Kedua, independensi peneliti. Kalau pun ada penelitian mengenai hal di atas, pertanyaan selanjutnya yang mesti diajukan adalah masalah independensi si peneliti sendiri. Apakah dalam melakukan penelitian murni untuk mencari kebenaran ilmiah (akademik), atau ada tendensi tertentu dan membawa misi atau kepentingan kelompom tertentu (kelompok anti tembakau).

Fakta Sejarah
IHT di Indonesia, sebenarnya sudah ada beberapa dekade sebelum bumi pertiwi memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Berdasarkan catatan Van Der Reijden dari tahun 1929 hingga 1934, diketahui bahwa di Blitar, Tulungagung, Kediri, dan Nganjuk (Jawa Timur), kebanyakan usaha yang dikembangkan saat itu adalah industri kretek (Margana dkk, 2014).
Industri kretek ini menjadi dimensi lain dalam peta perjuangan Indonesia pada masa revolusi, khususnya setelah diterapkannya politik etis oleh pemerintah kolonial. Ini memunculkan peta nasionalisme tersendiri, yaitu kegigihan pengusaha bumiputra berjuang melawan dominasi ekonomi kapitalistik kolonial, untuk mengangkat dan menegakkan martabat ekonomi bumiputra.
Ini adalah fakta sejarah mengenai keberadaan kretek –rokok dalam pandangan umum masyarakat- yang tidak bisa diingkari. Selain itu, banyak peran-peran penting (sumbangsih) para pengusaha kretek dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Fakta sejarah itulah yang kini seakan ‘’dilupakan’’ oleh kelompok anti tembakau dan sekutunya, yang getol memperjuangkan agar pemerintah segera meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).  
FCTC sendiri adalah kebijakan yang mendiskreditkan eksistensi petani tembakau dan IHT, sehingga mendapatkan perlawanan tanpa kenal lelah dari para petani tembakau dan pekerja di sektor IHT.
Untuk itu, pemerintah semestinya memang tidak gegabah meratifikasi FCTC. Sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hingga kini belum menandatangani FCTC, laik mendapatkan apresiasi dan support dari masyarakat luas atas sikapnya yang populis itu.
Ada beberapa hal lain yang bisa menjadi alasan pemerintah Indonesia tidak meratifikasi FCTC. Pertama, nilai sejarah. Kretek adalah warisan sejarah (heritage) karya anak bangsa yang memiliki kekhasan, serta ikut berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan.
Kedua, padat karya. IHT merupakan satu industri padat karya yang mampu bertahan dalam goncangan ekonomi global sedahsyat apapun. Puluhan juta warga negara Indonesia bekerja di sektor IHT, sehingga tsunami pengangguran akan melanda jika FCTC diratifikasi, yang pada gilirannya mengancam eksistensi IHT itu sendiri.
Ketiga, berkontribusi besar untuk negara. Pemerintah tidak bisa menutup mata, bahwa IHT berkontribusi besar terhadap negara melalui cukai dan pajak yang dibayarkannya. Setiap tahun, target pendapatan dari cukai dan pajak kretek pun dinaikkan. Ini berarti, pemerintah pun tidak siap kehilangan aset besar berupa IHT.

Namun lepas dari semua itu, pemerintah memang semestinya ikut memperhatikan petani tembakau dan industri hasil tembakau (IHT), lantaran besarnya kontribusi yang sudah diberikan. Bukan sebaliknya, malah mengeluarkan kebijakan yang menjadi bumerang dan mengancam eksistensinya. [rsd]