Jumat, 08 Agustus 2014

Testimoni : Sehat Oleh Balur

Pagi ini datang lelaki paruh baya dengan bersepeda ke Griya balur Muria, sendirian dengan menenteng tas kecil. Seperti biasa dia langsung masuk dan memanggil salah seorang terapis. Tanpa banyak cakap terapis langsung menyiapkan obat dan alat terapi.
Meniup asap divine pada kopi enema dan AM enema sendiri adalah kebiasaan yang dilakukan Pak Untung setiap kali datang untuk terapi BALUR bak sebuah ritual yang harus dijalaninya.

Mengamati betapa asik dia melakukan semua persiapan melayangkan ingatan saya pada saat pertama kali datang dalam keluhan sakit prostat dan gangguan jantung, saat itu dia datang ke Griya Balur Muria setelah melakukan beberapa kali terapi di balur Semarang. Tanggal 10 Mei 2012 adalah pertama kali dia datang ke Giya balur Muria untuk terapi lanjuta. Perlahan kondisi fisik dan kesehatannya membaik keluhan sakit mulai menghilang. “ikhlas dalam menerima proses terapi yang dibarengi dengan doa mohon kesembuhan dari Allah adalah kuncinya,” demian Pak Untung menjawab ketika saya tanyakan bagaimana pengalaman dia dengan BALUR.
Pak Untung Sulistiono (52th) telah melakukan 23 kali balur di Griya balur Muria dan ini dilakukan secara berkala. Biasanya Pak Untung tinggal di Desa Peganjaran, Bae Kudus yang tidak jauh dari Griya Balur Muria datang dengan mengendarai motor meticnya. Dari sebulan dua kali kemudian sekarang sekali dalam sebulan dia datang untuk baluran.
Melihat Pak Untung datang dengan bersepeda pagi ini, membuat kami keluarga Griya balur muria gembira dan bersyukur kepada Tuhan, bahwa apa yang telah dikerjakan diridhoi-Nya dengan memberikan kesehatan bagi mereka yang datang dan dibalur. (kcg-GBMnews)


https://www.facebook.com/pages/GRIYA-BALUR-MURIA/1414157845474793?ref_type=bookmark

Kretek: Ketangguhan Industri yang Teruji

Oktober 22, 2012 
Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.[1]

Awal abad XX. Hadji Djamhari telah tiada, tetapi permintaan atas kretek tidak ikut mati, sebaliknya justru terus meningkat. Permintaan bahkan meluas dari sekitar Kudus sampai ke daerah-daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Industri kretek di Kudus tumbuh sebagai industri yang unik. Dalam pemerintahan yang dikendalikan oleh bangsa asing, dan dalam perekonomian yang didominasi oleh modal asing, industri kretek di Kudus tumbuh dan berkembang sebagai basis usaha pribumi.
Salah seorang yang berperan penting di masa itu adalah Nitisemito, pengusaha pribumi yang kelak dikenal sebagai “raja kretek”. Jika Hadji Djamhari dikenal sebagai penemu kretek, Nitisemito dikenal sebagai orang yang memajukan industri kretek. Adalah Nitisemito yang pertama kali menggunakan dan memperkenalkan merek kretek, mulai dari Kodok Mangan Ulo, Bulatan Tiga, Tiga Bola, hingga akhirnya disempurnakan menjadi Bal Tiga di tahun 1906. Pada tahun 1908, ia mendaftarkan perusahaannya sebagai NV Bal Tiga Nitisemito.
Capaian Kudus kemudian menjalar ke Jawa Timur. Kali ini bukan hanya permintaan kretek saja, tetapi berdirinya perusahaan kretek. Tahun 1909, di Blitar berdiri perusahaan kretek. Menyusul kemudian di Kediri tahun 1911, dan di Surabaya tahun 1914. Puncak kejayaan tembakau masa itu terjadi pada tahun 1913, di mana ekspor tembakau Hindia Belanda mencapai jumlah terbesar, yaitu sebanyak 160 ribu bal.[2]
Selama Perang Dunia I, ketika terjadi kelumpuhan terjadi di mana-mana, industri kretek terus berkembang. Sampai tahun 1918, puluhan perusahaan kretek baru justru bermunculan di Kudus. Industri kretek juga semakin meluas di Jawa Timur, ditandai dengan berdirinya perusahaan kretek pertama di Nganjuk dan Madiun tahun 1915. Perkembangan industri kretek yang begitu pesat di Kudus menarik minat para pengusaha Tionghoa. Sayangnya, persaingan para pengusaha pribumi dengan para pengusaha Tionghoa yang terjadi sepanjang Perang Dunia I, berujung pada kerusuhan di bulan Oktober 1918.
Tetapi lagi-lagi, industri kretek adalah anomali. Pascakerusuhan, tidak butuh waktu lama bagi industri kretek di Kudus untuk pulih dan bangkit kembali. Menurut Budiman dan Onghokham,[3] di tahun 1924, industri kretek di Kudus bisa dibedakan ke dalam 3 golongan, yaitu besar (produksi di atas 50 juta batang per tahun), menengah (produksi 10 – 50 juta batang per tahun) dan kecil (produksi di bawah 10 juta batang per tahun). Di tahun itu, tercatat ada 12 perusahan besar, 16 perusahaan menengah, dan 7 perusahaan kecil. Jumlah itu terus meningkat di tahun-tahun selanjutnya: menjadi 38 perusahaan di tahun 1925, 42 perusahaan di tahun 1926, dan 46 perusahaan di tahun 1927. Di tahun 1928, industri kretek telah mencapai jumlah 50 perusahaan, dengan perincian 13 perusahaan besar, 26 perusahaan menengah, dan 11 perusahaan kecil. Pulihnya industri kretek di Kudus juga ditandai dengan semakin berkibarnya perusahaan Nitisemito. Tahun 1924, Bal Tiga telah melibatkan 15.000 orang pekerja.[4]
Tahun 1928. Perusahaan kretek telah meluas di hampir seluruh ibukota kabupaten di Jawa Tengah. Di Jawa Timur, setelah Blitar, Kediri, Surabaya, Nganjuk, dan Madiun, perusahaan kretek telah berdiri di Jombang, Tulungagung, Probolinggo, Besuki, Bojonegoro, Ponorogo, Tuban, Sidoarjo, Mojokerto, dan Malang. Perusahaan kretek juga telah mengenal pembungkus kertas yang memungkinkan penggunaan alat pelinting dalam pembuatannya. Kertas sebagai pembungkus rokok ini dikenal dengan istilah “papersigaretten”.
Sejak awal abad XX, rokok putih—yang tentu semuanya impor—sudah membanjir. Tahun 1923, jumlahnya diperkirakan mencapai 1 miliar batang per tahun. Ketika tahun 1924, British American Tobacco (BAT) membuka pabrik di Cirebon, banjir rokok putih kian meningkat. Empat tahun kemudian, BAT kembali dibuka di Surabaya. Di tahun 1931, total jumlah rokok putih yang beredar adalah 7,1 miliar batang,[5] melampaui peredaran kretek yang hanya 6,95 miliar batang.[6]
Industri kretek kembali diterpa badai ketika tahun 1929 bursa saham di New York jatuh. Industri ambruk. Perdagangan remuk. Imbas depresi terasa sampai ke Hindia Belanda. Pendapatan pemerintah dari pajak jauh menipis. Pemerintah kolonial akhirnya menerapkan beban pajak sebesar 20 persen bagi semua hasil tembakau pabrik. Maka, sejak tahun 1932 pabrik rokok harus membeli stiker banderol pajak atau pita cukai untuk dipasang di tiap bungkusnya. Peraturan tersebut membangkitkan ketakutan besar bagi industri kretek, melebihi ketakutan atas persoalan lain.
Tahun 1928 sampai 1932 merupakan salah satu masa terberat industri kretek. Tidak sedikit perusahaan yang tergilas karena mengalami penurunan produksi sebanyak dua kali. Produksi kretek sebesar 7,27 miliar batang di tahun 1930 turun menjadi 6,95 miliar batang di tahun 1931, kemudian turun lagi menjadi 6,08 miliar batang di tahun 1932.
Tetapi tahun berikutnya industri kretek telah berhasil bangkit. Tahun 1933, jumlah produksi meningkat menjadi 8,43 miliar batang. Sampai tahun ini pula, semua karesidenan di Jawa Timur, kerajaan Surakarta, Yogyakarta dan Jawa Tengah, kecuali Karesidenan Banyumas, telah mengembangkan perusahaan kretek. Hal yang sama berlaku untuk.
Dari Karesidenan Jepara dan Rembang, Karesidenan Madiun dan Karesidenan Malang saja tercatat ada 502 perusahaan. Jika ditambah karesidenan lain, termasuk kabupaten dan daerah kerajaan, yang tidak ada datanya, khususnya Karesidenan Kediri (Kediri, Blitar, dan Tulungagung) yang merupakan pusat industri kretek terbesar setelah Kudus, mestinya jumlah perusahaan kretek telah menembus angka 1000 di tahun 1933.
Laju perkembangan itu tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah kolonial yang lebih menguntungkan industri kretek daripada industri rokok putih. Misalnya, tahun 1932 industri rokok putih harus membayar banderol pajak lebih tinggi dibanding kretek. Kemudian, tahun 1935 harga eceran minimum untuk rokok putih ditentukan. Juga adanya pelarangan operasi bagi mesin-mesin baru tanpa izin pemerintah. Kebijakan ini tak lepas dari kepentingan pemerintah kolonial atas pajak industri kretek, khususnya perusahaan Nitisemito, Bal Tiga, yang telah melesat sampai 3,5 miliar batang di tahun 1938.
Perang Dunia terus berkecamuk. Tahun 1940, penetrasi ekonomi Jepang ke Indonesia berjalan massif. Perekonomian Indonesia diarahkan untuk menopang keperluan perang Jepang. Sektor perkebunan babak belur. Tanaman perkebunan dibongkar, diganti dengan tanaman pangan dan jarak—untuk pelumas mesin-mesin. Selama masa pendudukan Jepang, produksi perkebunan Indonesia merosot sampai 80 persen.[7]Industri kretek dirundung gelap. Tembakau sangat terbatas dan sulit didapat. Keadaan semakin gelap karena Jepang menyita banyak perusahaan kretek, termasuk NV Bal Tiga.
Namun kretek tidak sepenuhnya dilupa. Kejayaan kretek tersirat melalui penyebutan nama Nitisemito oleh pidato Soekarno di depan BPUPKI, 1 Juni 1945: “Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia.”
Tanggal 6 Agustus 1945, Indonesia dihadapkan pada situasi kekosongan kekuasaan; Jepang yang berkuasa telah menyerah, sementara pihak Sekutu tidak menaklukkan kembali Indonesia. Dengan membonceng Sekutu, Belanda kembali ke Indonesia, karena secara ekonomi Indonesia tetap penting bagi Belanda. Akibatnya, sepanjang masa agresi, industri kretek hanya berkembang di kota-kota yang dikuasai Belanda, seperti Surabaya, Malang, dan Semarang. Baru setelah agresi militer Belanda yang kedua, seiring jatuhnya Kudus dalam kekuasaan Belanda akhir tahun 1948, industri kretek di Kudus bisa mengakses cengkeh impor.
27 Desember 1949. Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia. Keadaan sosial, ekonomi, dan politik pada masa itu sungguh sulit. Di berbagai daerah, ketegangan politik muncul dan seringkali berujung pada konflik senjata. Industri kretek tumbuh dalam lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang sulit. Kenyataan tersebut masih ditambah harga cengkeh yang kembali melejit akibat gagal panen di Zanzibar dan dampak Perang Korea. Tetapi secara keseluruhan, industri kretek justru berkembang. Jumlah produksi kretek tidak kalah dengan tahun-tahun terakhir sebelum Perang Dunia II, bahkan jauh melampauinya di tahun 1959 – 1963. Jumlah produksi tahun 1939 diperkirakan sebanyak 15,14 miliar batang. Sementara jumlah produksi di tahun 1959 – 1963 berturut-turut adalah 21,22 miliar batang, 21,37 miliar batang, 20,22 miliar batang, 19,30 miliar batang, dan 20,71 miliar batang.[8]
Selain peningkatan jumlah, produksi kretek juga meluas ke luar Jawa. Tahun 1961, perusahaan kretek telah berdiri di Karesidenan Sumatera Timur, Bali, dan Lombok. Jumlah produksi kretek di daerah-daerah tersebut mencapai hampir 1,4 miliar batang dari total 20,22 miliar batang di tahun 1961. Berkembangnya industri kretek berpengaruh besar terhadap penerimaan negara dari cukai tembakau yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dari masa ini perlindungan pemerintah berupa pajak diferensial ala pemerintah kolonial tetap dipertahankan, bahkan lebih mencolok di akhir tahun 1950-an. Tahun 1950, rokok yang dibuat dengan mesin dikenakan pajak 50 persen dari harga eceran, sementara kretek hanya 40 persen. Tahun 1959, pungutan untuk rokok buatan mesin tetap 50 persen, sedangkan kretek turun menjadi 20 persen. Yang juga turut memengaruhi adalah pengambilalihan perusahaan-perusahaan milik asing oleh pemerintah, terutama milik Belanda, Inggris, dan Amerika, di mana Jacobson van den Berg dan BAT.
Hingga akhirnya Demokrasi Terpimpin jatuh, Orde Baru berkuasa, kiblat ekonomi menjadi berubah. Bantuan keuangan dalam jumlah besar mengucur dari negara-negara barat. Sebagai kompensasi, Orde Baru mengangkat World Bank (WB) dan International Monetary Fund (IMF) sebagai mentor perekonomian Indonesia.
Perubahan kiblat ekonomi juga berarti dikembalikannya perusahaan-perusahaan milik Inggris dan Amerika Serikat yang diambil alih di era pemerintahan Soekarno. Salah satu perusahaan tersebut adalah BAT, produsen rokok putih terbesar di Indonesia. Tahun 1968 – 1969, BAT segera menjadi lokomotif rokok putih yang melesat cepat hingga mendesak kretek. Tahun 1970, hanya tiga tahun setelah BAT dikembalikan, rokok putih telah menguasai 40 persen pasar rokok Indonesia.
Tetapi industri kretek kembali mendapat perlindungan pemerintah. Tahun 1970 swasembada cengkeh dicanangkan untuk mengurangi impor dan menguatkan devisa. Kemudian, dari oil booming di tahun 1974, pemerintah mengucurkan pinjaman lunak bagi industri kretek. Pinjaman itu digunakan industri kretek untuk menambah investasi. Revolusi kretek terjadi. Dimulai dari perusahaan besar, yaitu Djarum tahun 1976, Gudang Garam tahun 1978, lalu Sampoerna tahun 1984, pemerintah memberikan izin mekanisasi industri (Bentoel sudah lebih dulu melakukannya di tahun 1968). Sejak saat itu pula, kretek mulai menggunakan filter.
Kejayaan kretek kemudian dipastikan melalui program transmigrasi pemerintah Orde Baru mulai dekade tahun 1970-an. Secara “tidak sengaja”, transmigrasi mengantarkan distribusi kretek secara luas ke daerah-daerah di luar Jawa, membuat kretek semakin tak tertandingi rokok putih dan menjadi primadona di negerinya sendiri.
Sampai tahun 1997, industri kretek telah mencatat banyak kemajuan dan melesat jauh meninggalkan industri rokok putih. Swasembada cengkeh telah dinyatakan berhasil tahun 1991, di mana terjadi perluasan lahan yang mencolok, dari 82.387 Ha tahun 1970 menjadi 724.986 Ha tahun 1990.[9] Indonesia semakin mempertegas posisinya sebagai penghasil cengkeh terbesar di dunia, meninggalkan Zanzibar dan Madagaskar, sekaligus menghapus ketergantungan tinggi industri kretek atas impor cengkeh. Tembakau impor pun sebagian besar dipasok untuk kebutuhan produksi rokok putih.
Keadaan di atas memantapkan industri kretek. Seluruh proses produksi dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku—tembakau dan cengkeh—sampai produk akhir—kretek—dikerjakan di dalam negeri. Seluruh lini produksi dipastikan menyerap tenaga kerja dan memberi nilai tambah bagi perekonomian. Tak heran, ketika krisis finansial melanda Asia, industri kretek menunjukkan ketangguhannya.
Krisis moneter yang berawal dari Thailand hingga menjalar ke Indonesia, telah melumpuhkan nilai rupiah sampai Rp 16.000 per dolar Amerika di akhir Januari 1998. Bursa saham Jakarta hancur. Hampir semua perusahaan modern di Indonesia bangkrut. Sebaliknya, industri dengan basis material dalam negeri seperti kretek akan cenderung aman dari guncangan krisis. Industri kretek, meskipun ada muatan impor namun kecil sekali, hanya sekitar 4 persen saja.[10]
Dalam catatan Sumarno dan Kuncoro,[11] pendapatan negara dari cukai rokok justru meningkat, dari Rp 4,153 triliun di tahun 1996 menjadi Rp 4,792 triliun di tahun 1997 dan Rp 7,391 triliun di tahun 1998. Tiga raksasa kretek, yaitu Sampoerna, Gudang Garam, dan Djarum, juga tergolong sebagai 10 perusahaan Indonesia yang dikategorikan bekerja prima di antara 200 perusahaan terbaik di kawasan Asia tahun 1999 – 2000, versi majalah Far Eastern Economic Review (FEER). Sementara, dalam catatan Tri Wibowo, [12] selama masa krisis (1997 – 2002), rata-rata pertumbuhan jumlah perusahaan industri kretek naik sebesar 1,85 persen, di mana kenaikan terbesar terjadi di tahun 1998 sebesar 5,26 persen. Selama masa krisis itu pula, rata-rata pertumbuhan pekerja industri kretek meningkat sebesar 4,43 persen per tahun, di mana peningkatan terbesar terjadi di tahun 1998 sebesar 9,73 persen. Krisis finansial Asia, atau di Indonesia lebih dikenal sebagai krisis moneter, telah menjadi ajang pembuktian ketangguhan industri kretek untuk yang kesekian kalinya.
Pada pengujung milenium kedua, lolos dari rangkaian badai dan krisis yang menerpanya, dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada industri nasional yang berkarakter seperti industri kretek: seluruhnya modal dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagian besar bahan bakunya dari dalam negeri, dari hulu ke hilir melibatkan puluhan juta tenaga kerja di dalam negeri, mayoritas hasil produksinya dipasarkan di dalam negeri, dan menjadi raja di negeri sendiri dengan menguasai nyaris 90 persen pasar rokok.[13] Karena itu, mempertimbangkan seluruh karakter tersebut, layak rasanya mendudukkan industri kretek di atas industri nasional lain. []


Post : Keceng, 8/8/24


Kamis, 07 Agustus 2014

Gretha Zahar : Ilmuwan dan Tabib yang Mengobati Dengan Media Rokok

http://www.indospiritual.com/gambar/gretha-zahar.jpg
Gunakan pengamatan berskala seluler terhadap mekanisme tubuh Anda, Anda akan melihat organ, jaringan, protein, sel dan sebagainya. Gunakan pengamatan berskala atomik, Anda akan menemukan bahwa di balik organ, jaringan dan sel itu terdapat atom karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan sebagainya. Selanjutnya gunakan pengamatan berskala sub-atomik, skala yang jauh lebih kecil daripada atomik. Apa yang akan Anda temukan? Ternyata di balik atom-atom penyusun tubuh Anda itu terdapat interplay yang tak putus di antara proton, netron dan elektron. Anda berada dalam ranah yang banyak dibicarakan oleh fisika modern, nuclear science, bahkan nanobiology. Demikian pelajaran yang saya peroleh dari Gretha Zahar, seorang pakar nuclear science yang mengelola klinik di beberapa kota dan Lembaga Peluruhan Radikal Bebas di Malang.

Tidak mudah memahami penjelasan bu Gretha. Fisika modern, kimia nuklir, ditambah dengan nanoteknologi, ketika disatukan dalam uraian, menjadi menu yang lumayan berat untuk dicerna. Namun ternyata dalam praktek semuanya sangat sederhana. Obat segala penyakit itu ternyata ada di dapur kita sendiri: ada telur, kopi, garam, bawang, air kelapa, fermipan … Hanya satu obat yang tidak biasa: rokok! Rokok terapi ini diramu secara khusus, asapnya ditiupkan ke lubang telinga, hidung, dan mulut pasien melalui sebuah pipa. Pasien dibaringkan di atas papan tembaga, dibalur dengan 7 macam ramuan, sementara terapi asap dilakukan di sela-sela proses tersebut. Sungguh aneh melihat sebuah penemuan canggih dipraktekkan dengan begitu mudah dan sederhana, sesederhana pengobatan ala kampung jaman baheula.

"Alam sudah menyediakan semuanya", kata Profesor Dr. Sutiman Bambang Sumitro, seorang mikrobiolog dari Universitas Brawijaya Malang yang menjadi mitra kerja bu Gretha. "Orang cenderung mempercayai peralatan canggih, padahal peralatan itu bisa jadi digunakan untuk menutupi konsep yang tidak canggih. Sedangkan Alam selama ini bekerja berdasarkan konsep yang canggih. Telur, garam, bawang, kopi, tembakau dan sebagainya itu semua merupakan peluruh radikal bebas yang luar biasa", tambahnya.

Mengapa telur mentah? "Karena telur mentah merupakan protein hidup. Telur mentah itu internally driven. Putihnya menangkap radikal bebas dalam tubuh kita, termasuk merkuri yang juga internally driven. Sedangkan merah telur mengandung bahan stem cell", kata bu Gretha. "Tidak perlu takut pada bakteri salmonela atau virus yang mungkin ada pada telur mentah", kata bu Gretha seolah membaca pikiran saya. "Karena dalam kopi ada karbon yang berfungsi seperti norit yang melumpuhkan racun."

Tidak perlu takut pada bakteri dan virus? Sungguh menyenangkan membayangkan dunia yang sedang disiapkan oleh bu Gretha dan kawan-kawan ini ! "Bakteri dan virus, semua itu hanyalah protein hidup yang mengalami mutagenik. Mereka menamainya bakteri, jika ukurannya 10 pangkat minus 5. Tapi ketika ukurannya nano, mereka menamainya virus", kata bu Gretha sambil mempermainkan rokoknya. "Yang lebih penting untuk diselidiki adalah penyebab mutagenik protein tersebut, yaitu radikal bebas, terutama merkuri. Merkuri mempunyai 13 macam panjang gelombang yang bisa digunakan untuk mengacaukan dan menyesatkan codon dalam pembentukan protein (codon adalah kode genetik yang menentukan sintesa protein, Red.) Merkuri dalam tubuh akan menarik lebih banyak merkuri.

Hebatnya, merkuri punya energi dinamika yang cukup besar untuk membantunya melakukan transisi elektron, sebuah cara baginya untuk ‘menyamar’ menjadi partikel lain", katanya sambil meluruskan kakinya di lantai. Sekarang menjadi jelas mengapa selama ini berbagai penelitian belum bisa ‘menangkap basah’ merkuri dan perilakunya di tubuh kita. "Merkuri hanya perlu tambahan 1 elektron untuk menjadi logam berat seperti thalium, atau 2 ekstra elektron untuk menjadi timbal. Padahal elektron-elektron itu tersedia dalam jumlah besar di Alam sebagai akibat dari melimpahnya jumlah radikal bebas ", tambahnya lagi.

"Jadi penyembuhan segala macam penyakit pada dasarnya hanyalah memperbaiki kemampuan tubuh dalam mengendalikan polutan. Detoksifikasi adalah yang paling relevan. Jika kita tahu caranya, tak ada penyakit yang perlu ditakuti, termasuk flu burung, flu babi dan sebagainya", kata bu Gretha. Ia lalu memamerkan foto-foto klinis dan eksperimennya yang sangat menakjubkan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kanker dan autisme merupakan persoalan sederhana di matanya, apalagi penyakit stroke, jantung dan sebagainya.

Bu Gretha dan klinik-kliniknya telah membantu ratusan orang yang sudah tidak bisa ditangani oleh rumah sakit. Namun gaya hidupnya sangat bersahaja. Tempat duduk favoritnya adalah lantai, kosmetiknya hanyalah ramuan yang terbuat dari putih telur dan air kelapa. Tanda-tanda kemewahan ‘hanya’ terlihat pada matanya yang selalu polos namun energik, tubuh yang elastis, berotot, bugar, serta kulit wajah yang bersih. Tidurnya sedikit, namun ia masih mampu push-up 25 kali dan berenang 90 menit tanpa jeda di usianya yang menjelang 70. (Kami sering menggodanya dengan sebutan ‘nenek-nenek aneh’, karena bukannya membekali diri dengan minyak angin dan syal penghangat seperti nenek pada umumnya, ia malah membawa rokok dan berbagai ramuan kemana-mana untuk mengurus siapapun yang dijumpainya di jalan dan sedang bermasalah ! J)

Restless and fearless, itulah yang saya lihat pada bu Gretha. Dalam pencariannya yang tak kenal menyerah, ia sempat mengalami berbagai hinaan dan pengusiran oleh ilmuwan-ilmuwan lain. Namun dengan gigih ia terus berjuang, salah satunya dengan mencoba membuktikan hipotesanya lewat pengabdian di sebuah rumah sakit swasta dan beberapa panti asuhan. Dukungan dari kalangan universitas dan dari kalangan medis akhirnya mengalir. Tapi ia belum puas juga. "Alam sedang sedih karena banyak dimanipulasi oleh manusia", katanya suatu hari, dengan nada sedih yang tak berhasil disembunyikan. "Kita mengambil terlalu banyak dari Alam, ini menyulitkan Alam dalam melakukan recycling terhadap beratus-ratus ton radikal bebas yang berkeliaran di sekitar kita.

Sementara itu hutan dan lautan yang menjadi mesin pendaur-ulang utama itu mengalami kerusakan yang amat parah," katanya lagi. Pak Sutiman lalu menambahkan: "Alam sekarang mengalami kesulitan dalam melakukan siklus berbagai material. Manusia sebagai bagian dari Alam pun mengalaminya." Lalu, setelah menyalakan rokok yang entah ke sekian, pak Sutiman -yang sebelumnya sama sekali bukan perokok itu- melanjutkan:"Kerusakan Alam kini menempatkan manusia pada posisi degeneratif, artinya manusia menghadapi ancaman kegagalan dalam menjalankan kemampuan normal. Itu sebabnya penyakit manusia bergeser ke arah difficult diseases."

Tapi bu Gretha tidak pernah membiarkan dirinya sedih berlama-lama. Intuisinya yang liar dan tajam membuatnya segera sibuk memikirkan gagasan-gagasan baru. Alur pikirannya melompat-lompat dengan lincah, tak banyak orang yang memiliki kemampuan untuk mengimbanginya. Ketika pak Sutiman pada suatu kesempatan resmi menguraikan pemikiran bu Gretha dalam bahasa yang lebih runut, bu Gretha tercengang-cengang sendiri: "Benarkah itu hasil pemikiranku? Aku tidak mengira akan seindah itu…", katanya dengan ekspresi yang lucu.

Keindahan itu juga terlihat dalam proses pengobatan ala bu Gretha. Sebelumnya, dalam sebuah eksperimen, bu Gretha mencoba melepaskan radikal bebas dari sebuah protein buatan. Radikal bebas itu baru terlepas sesudah dihantam dengan beban sebesar … 8 ton ! Namun ketika protein yang mengandung radikal bebas itu ditepuknya dengan ‘mengaktifkan rasa kasih-sayang’, radikal bebas itupun terlepas. Artinya, beban 8 ton itu kurang lebih setara dengan tepukan penuh kasih-sayang ! Itu sebabnya pelayanan penuh kasih-sayang menjadi bagian yang paling penting dalam terapi yang dikembangkannya.

Itu sebabnya pula, di papan tembaga, pasien anak-anak dibaringkan di atas tubuh ayah atau ibunya, agar terjadi ikatan batin yang lebih dalam di antara keduanya. Ikatan kasih-sayang ini sangat berguna untuk mendorong kesembuhan. Dalam klinik-klinik asuhan bu Gretha dan kawan-kawan selalu ditekankan pentingnya partisipasi keluarga dalam proses penyembuhan. Kesembuhan seorang pasien dipengaruhi oleh kesehatan anggota keluarganya. "Bahkan menyehatkan diri sendiri itu sama dengan menyehatkan lingkungan", demikian kata pak Sutiman.

Keindahan yang lain juga diperlihatkan di akhir terapi. Berbagai ramuan yang sudah dibalurkan ke tubuh pasien itu ditampung, sebagian dibiarkan tersisa di papan tembaga, sebagian diteteskan pada cawan petri. Hasilnya sungguh menakjubkan! Hanya beberapa menit dijemur di bawah matahari, kita akan segera melihat kristal yang bisa mengisahkan ’siapa kita’. Jika Anda sehat, pada papan tembaga maupun cawan petri itu akan terlihat lukisan kristal yang penuh, simetris, fraktal, dan memiliki pola yang sangat indah. "Tubuh manusia itu merupakan pabrik nano material yang paling hebat. Ketika cairan nano dari tubuh kita memperlihatkan keteraturan dan keindahan, itu menunjukkan bahwa tubuh kita memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan keteraturan dan harmoni", demikian pak Sutiman menjelaskan sambil mengepulkan asap rokoknya.

Dua tahun terakhir ini, rokok merupakan bagian yang sangat penting dalam klinik binaan bu Gretha dan kawan-kawan -yang sebelumnya tidak satupun yang perokok. Rokok yang dinamai Divine Klobot itu mengandung asam amino, diproses sedemikian rupa sehingga bebas dari radikal bebas, dan menghasilkan partikel yang berukuran jauh lebih kecil. "Dengan terapi asap, radikal bebas yang keluar dari tubuh akan berukuran kecil, sehingga pasien tidak perlu mengalami siksaan seperti luka-luka yang besar dan basah atau aroma tubuh yang sangat mengganggu", kata bu Gretha. Proses penyembuhan menjadi jauh lebih cepat, bahkan selama proses pengobatan pasien bisa tetap menjalani kehidupan normal tanpa diet khusus, asalkan ia bersedia secara teratur ….. merokok!

Sungguh sebuah paradoks yang mengesankan. Limbah ramuan balur bisa menjadi kristal yang bercerita, dan rokok yang sekarang sedang dihujat telah dimuliakan menjadi obat! "Tidak ada yang baru pada tembakau dan nikotin. Ratusan tahun yang lalu, bangsa Indian telah menggunakannya sebagai obat; mereka bahkan menamai tembakau sebagai tanaman dewa. Nikotin juga telah lama diteliti dan diakui mengandung banyak manfaat, bahkan ia dijuluki ‘gold nicotine’. Unsur kimianya yang berjumlah 11000 macam itu membuatnya sangat istimewa. Jika dilihat secara parsial, unsur-unsur kimia itu memperlihatkan ‘kejahatan’nya. Tapi jika partikel-partikel tersebut dilihat secara utuh, rokok memperlihatkan adanya potensi untuk menyelenggarakan keteraturan dan harmoni.

Rokok tidak membahayakan generasi terdahulu, juga tidak generasi sekarang. Yang berbahaya itu radikal bebasnya, dan radikal bebas ada dimana-mana", jelas pak Sutiman panjang lebar. Bu Gretha lalu menimpali: "Dengan menggunakan cetakan nano pada filter, densitas elektron meningkat, sehingga kandungan merkuri pada tembakau akan siap melepaskan elektron. Dan ketika merkuri kehilangan 1 elektron, ia bukan lagi merkuri. Ia merupakan partikel emas atau aurum, tepatnya artificial aurum." Saya jadi ingat sebuah artikel tentang partikel aurum. Dalam ukuran nano, ia sudah lama dikenal sebagai nanomaterial yang efektif membunuh sel kanker tanpa merusak sel lainnya.

Bu Gretha lalu menunjukkan selembar kertas yang ia katakan sebagai ‘penemuan yang sangat mengagumkan’, yaitu tabel periodik kimia, tabel ciptaan Mendeleyev yang pernah kita pelajari di SMA. Ia menjelaskan, bahwa merkuri dengan nomor atom 80 bisa dengan mudah ‘menyamar’ menjadi thalium dan timbal hanya dengan tambahan 1-2 elektron. Merkuri juga bisa berubah menjadi artificial aurum atau emas -yang bernomor atom 79- hanya dengan mendonasikan elektronnya … Pernyataan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pembuktian. Bersama teman-teman, saya menguji pengaruh Divine Klobot terhadap aura.

Dengan menggunakan aurameter milik bu Gretha, saya dan teman-teman menyaksikan, bahwa terapi asap lambat-laun akan membentuk aura berwarna emas di tubuh kita. "Sungguh terobosan yang hebat", kata Kang Aas Rukasa, seorang guru senam pernafasan dan meditasi. "Aura emas hanya mungkin diperoleh melalui latihan pernafasan yang intensif yang disertai pengerasan tubuh. Aura emas mencerminkan kematangan di chakra jantung, chakra yang berhubungan dengan kasih sayang, kelenturan, keterbukaan, dan respon seni", kata Kang Aas. "Aura emas merupakan jembatan tercepat antara tubuh dan pikiran; artinya seseorang dengan aura emas akan memiliki kecerdasan tubuh dalam menerjemahkan dimensi pikiran. Aura emas bukan hanya mencerminkan kesehatan yang prima dan kelenturan tubuh dalam menghadapi gangguan, aura emas ini juga berbicara tentang potensi untuk menyembuhkan orang lain", demikian ia menambahkan.

Saya jadi teringat kisah-kisah klasik tentang para alkemis yang selalu terobsesi untuk mengubah apapun menjadi emas. Tidak disangka bahwa rahasia alchemy itu tak jauh-jauh dari kita, dan tampaknya tidak terlalu sulit bagi kita untuk mempelajarinya. Siapa tahu kita bisa menjadi the alchemy berikutnya?

Dasar-dasar bagi tumbuhnya future science itu telah disiapkan oleh bu Gretha dan kawan-kawan. Ini adalah sains multidisiplin yang tak hanya yang holistik, tapi juga unik, karena membawa dan mewujudkan mimpi terdalam umat manusia sejak masa klasik. Saya dan teman-teman tidak henti-hentinya kagum melihat seorang ilmuwan yang sekaligus ‘tabib’, seorang yang sesaat berbicara tentang ilmu-ilmu canggih dalam bahasa campuran Indonesia dan Inggris, lalu ia membalur dan meniupi pasien dengan bertelanjang kaki, tanpa sarung tangan dan penutup hidung. Di waktu pagi, senja dan tengah malam, ‘tabib’ ini menyempatkan dirinya membalur diri dengan kopi, ramuan kelapa dan putih telur, atau garam.

Di waktu senggangnya ia hanya memerlukan lantai untuk sekedar membaringkan tubuhnya, sambil meniupkan asap Divine Klobot ke dalam telinganya. "Lantai baik untuk kesehatan, karena Bumi menetralisir kelebihan arus listrik yang menyebabkan adanya ritme tidak harmonis di tubuh kita. Garam bagus untuk menangkap radikal bebas yang ada di tubuh kita. Pengobatan terbaik adalah menggunakan tangan telanjang, bukan tangan bersarung, apalagi mesin, karena… tahukah engkau, bahwa tubuh manusia adalah cetakan nano terhebat di dunia?", begitu katanya sambil tersenyum, seolah membenarkan ritual para tabib tradisional kita yang sudah lama menggunakan garam, telur, tangan telanjang, juga lantai dalam praktek pengobatan mereka. Sungguh sangat sesuai dengan namanya: Gretha artinya mutiara, Zahar itu brightness, revealed, grounded.

"Ibu kok seperti penyihir, ya…"

"Atau seperti Merlin…"

"Atau Nostradamus, Leonardo da Vinci…"

Begitu komentar teman-teman setiap berjumpa dengan ibu Gretha Zahar yang tak habis-habisnya mengherankan kami.


Sumber : 
Tuty Yosenda, www.balur.com